GUNUNG KAWI: KEINDAHAN ALAM, SEJARAH KERAMAT, DAN WARISAN TOLERANSI DI JAWA TIMUR

 

JAWA TIMUR  KABAR INDONESIA :  Gunung Kawi merupakan gunung berapi tidak aktif dengan ketinggian sekitar 2.551 meter di atas permukaan laut, yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Keindahan alamnya yang memikat menyatu erat dengan jejak sejarah, warisan spiritual, dan kearifan lokal yang dijunjung masyarakat setempat.

Secara letak geografis, Gunung Kawi berada di sebelah barat daya Kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar. Bersama Gunung Butak dan Gunung Panderman, deretan pegunungan ini membentuk siluet menyerupai wanita tidur atau Putri Tidur, di mana puncak Gunung Kawi menjadi bagian kepalanya.

Kawasan ini dikenal luas sebagai pusat ziarah, yaitu Pesarean Gunung Kawi. Tempat ini menjadi makam Eyang Jugo (Kanjeng Kiai Zakaria I) beserta pengikutnya, Raden Mas Iman Sujono — bangsawan sekaligus ulama yang mengikuti jejak Pangeran Diponegoro dan mengungsi ke lereng gunung ini pada abad ke-19.

Awalnya, kawasan ini murni menjadi pusat penyebaran agama Islam, tempat ziarah, serta tirakat untuk mencari berkah dan kebaikan. Keunikan lain terlihat dari semangat toleransi beragama yang kental; di sekitar kawasan juga terdapat tempat ibadah Kuan Im, mencerminkan kerukunan yang hidup berdampingan.

Seiring berjalannya waktu, sebagian masyarakat mengaitkan Gunung Kawi dengan kisah mistis atau mitos pesugihan mencari kekayaan instan. Namun di sisi lain, terdapat Pohon Dewandaru yang dikeramatkan  dikenal sebagai pohon kesabaran. Daun atau buah yang jatuh sendiri dipercaya membawa keberuntungan bagi para peziarah yang berhati tulus.

Gunung Kawi menyuguhkan pemandangan alam yang asri, berpadu sabana luas dan hutan tropis yang rimbun. Terdapat beberapa jalur pendakian populer yang dapat dipilih wisatawan maupun pendaki, antara lain:

– Jalur Precet, Kraton, dan Kucur dari arah Malang

– Jalur Panderman maupun Mrinci

Gunung Kawi tak sekadar destinasi alam, melainkan cerminan harmoni antara keagungan ciptaan Tuhan, jejak sejarah luhur, serta keragaman yang menyatukan masyarakat.

Pimpinan Redaksi: Asep Saepudin 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *