Abah Anton Charliyan: Jejak Panjang dari Reserse, Kapolda Jabar hingga Pengabdian Budaya Sunda

 

BANDUNG KABAR INDONESIA : Nama Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., yang akrab disapa Abah Anton memiliki rekam jejak panjang di institusi Polri. Kariernya membentang dari dunia reserse, jabatan kewilayahan, Kepala Divisi Humas Polri, Kapolda Sulawesi Selatan hingga Kapolda Jawa Barat.

Setelah memasuki masa purnatugas, perjalanan pengabdiannya berlanjut melalui politik dan kegiatan sosial-kebudayaan. Pada 2026, Anton dipercaya menjadi Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat periode 2026/2027 berdasarkan SK Gubernur Jabar Nomor 430/Kep.120-Disparbud/2026 tanggal 6 Maret 2026.

Anton merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1984. Ia kemudian mengikuti sejumlah pendidikan pengembangan kepolisian, antara lain PTIK, Sespim, Sespati dan Lemhannas.

Karier awalnya banyak bersentuhan dengan fungsi reserse. Pengalaman tersebut kemudian membawanya menangani sejumlah perkara yang mendapat perhatian publik. Catatan Pikiran Rakyat menyebut keterlibatannya dalam pengusutan kasus Marsinah pada 2000 dan perkara Munir ketika bertugas di Polda Metro Jaya. Pada 2003, Anton bertugas di Bareskrim Polri sebagai Kanit III Direktorat I Keamanan dan Kejahatan Transnasional.

Pikiran Rakyat mencatat Anton telah menduduki *27 posisi jabatan* sepanjang kariernya di kepolisian, dengan jabatan terakhir sebagai  Waka lemdiklat Polri 

Salah satu fase penting adalah ketika dipercaya menjadi Kepala Divisi Humas Polri. Setelah dari Mabes Polri, Anton dipercaya menjadi Kapolda Sulawesi Selatan, sebelum kemudian memimpin Polda Jawa Barat pada Desember 2016, menggantikan Irjen Pol. Bambang Waskito.

Saat memimpin Polda Jabar, Anton memperkenalkan konsep PDLTT ( Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Terstruktur dan Terukur).

Salah satu hal menonjol adalah upaya memperkuat kemitraan polisi dan masyarakat. Pada 2017, Polda Jabar memberikan penghargaan Honorary Police kepada sejumlah tokoh Jawa Barat. Pada masa kepemimpinannya juga terjadi penanganan teror bom panci di Cicendo Bandung Februari 2017, dimana 35 personel berprestasi mendapat penghargaan.

Rekam jejak Anton ditandai penghargaan: Satyalancana Dwidja Sistha (2014), Bintang Bhayangkara Nararya (2014), dan Bintang Bhayangkara Pratama (2016).

Setelah pensiun, perhatian terhadap budaya Sunda semakin kuat. MASDA mempunyai tugas menampung aspirasi masyarakat adat, koordinasi pelestarian budaya di kampung adat, serta merumuskan rekomendasi pelestarian adat.

Dalam kapasitas Ketua MASDA, pada Juli 2026 Anton menyampaikan penguatan kampung adat menjadi agenda utama pelestarian budaya Sunda dari tingkat masyarakat sebagai basis kehidupan budaya.

Perjalanan Abah Anton dapat dipetakan dalam dua fase besar. Pertama, fase Bhayangkara: Akpol 1984, reserse, Kadiv Humas, Kapolda Sulsel dan Kapolda Jabar. Kedua, fase pengabdian masyarakat dan budaya: politik dan kini memimpin Majelis Adat Sunda Jabar 2026/2027.

“Seragam Bhayangkara memang telah dilepas, tetapi ruang pengabdiannya terus berlanjut – kali ini melalui masyarakat, adat dan kebudayaan Sunda,”_ pungkasnya.

Pimpinan redaksi: Asep Saepudin – Kabar Indonesia,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *